Kamis, 29 November 2007

Temani Aku Makan Siang, Please ...."


Oleh: Chairul Baderu

MATAHARI begitu menyengat di jalan Mangga, suatu siang di Kota Palopo. Debu beterbangan tersapu angin. Deru kendaraan bermotor silih berganti seakan ingin memecahkan gendang telinga. Ah, aku menghela nafas pendek. Kuusap wajahku pelan. Kubersihkan debu yang baru saja singgah di wajahku. Namun, kedua kakiku terus berjalan memasuki sebuah rumah makan yang berada di simpang jalan Mangga yang tak pernah sepi dari hiruk pikuk warga kota ini.

Kuambil sebuah tempat duduk paling sudut dalam rumah makan yang terkenal dengan menu ikan bakarnya. Belum juga pantatku panas duduk di kursi besi berlapis karpet tipis, seorang pelayan mendekatiku. "Pesan apa?" sapanya, ramah sambil menyerahkan daftar menu. "Oranye juice saja dan dua buah kue bolu," jawabku, seraya mataku melirik jam tangan. Lima menit lagi jam istirahat kantoran.

Ya, setiap hari aku duduk di rumah makan yang berada di pusat keramaian tak jauh dari terminal Palopo itu. Setiap detik yang terlewatkan di rumah makan itu, setiap saat itu juga mataku menatap ke pintu utama rumah makan itu. Dan, lima menit yang akan terlewatkan sangat membosankan. Jarum jam bergerak begitu lamban. Lama.

Pelayan rumah makan itu begitu mengenalku. Hampir setiap hari aku berada di rumah makan tempatnya bekerja. Dan, ia juga hafal benar kedatanganku lima menit sebelum jam istirahat kantoran tiba.

Belum juga pesananku tiba di meja, mataku tertuju pada seorang gadis yang berjalan memasuki pintu rumah makan yang setiap hari ramai dikunjungi para pebisnis yang akan mengisi perutnya yang keroncongan setelah bergelut pekerjaan setengah harian.

Aku kenal betul gadis itu. Rambutnya yang panjang sebahu, hidungnya yang mancung, dan tatapan matanya yang tajam, bahkan setiap gerakan kakinya aku hafal betul. Bagaimana tidak mengenal benar gadis itu, hampir tiga bulan ini aku mengamatinya. Setiap hari aku berada di rumah makan itu, hanya untuk mengamati setiap langkah kakinya. Lima menit jelang jam istirahat kantoran, aku sudah menunggu di dalam rumah makan itu hanya untuk bisa melihat dua bola matanya yang tajam.

Pernah aku berpikir, sorot mata gadis itu begitu sombong. Begitu angkuh dan tak bersahabat. Namun, pelayan rumah makan yang mengaku mengenal baik gadis itu menyatakan, gadis itu sangat baik. "Kalau sudah mengenalnya, Ranti sangat baik dan bersahabat," kata pelayan itu, suatu hari ketika aku tengah menghitung detik demi detik dalam rentang lima menit menunggu jam istirahat kantoran.

Ya, gadis itu bernama Ranti. Dulu, dua tahun lalu, aku pernah mengenalnya. Aku pernah menjabat tangannya. Tetapi, perkenalan itu tak lebih dari lima menit. Sebuah perkenalan singkat bagiku, tetapi membawa banyak kisah dan cerita yang belum terurai. Dan, aku masih mengenal gadis itu. Tetapi Ranti tidak lagi mengenalku. Mungkin karena kami hanya berkenalan dalam hitungan menit saja. Perkenalan itu juga sudah berlalu dua tahun lamanya.

Seperti biasanya, setelah Ranti berada di dalam rumah makan ini, aku hanya bisa memandanginya dari jarak lima meteran. Ia pesan nasi goreng, pikirku, karena menurut pelayan ia penyuka nasi goreng seafood. Aku memang sering melihatnya begitu lahap mengunyah nasi goreng.

Aku hanya bisa memandangnya tanpa berani mendekatinya. Aku hanya bisa mencuri pandang dari jarak dekat yang hanya membutuhkan waktu tak lebih dari lima menit untuk berjalan mendekatinya.

Pernah suatu ketika terbersit sebuah keinginan dalam hati untuk mendekati Ranti. Keinginan itu begitu menggebu. Dadaku sampai sesak, karena keinginan itu terus mendesakku. Ia memaksaku. Keinginan itu sampai memakiku sebagai pria pengecut. Tapi, seperti biasanya, keinginan itu hanya ada di dalam hati terdalam. Keinginan itu terkubur bersama selesainya sepiring nasi goreng pesanannya.

Dan, kalau sudah begitu, aku hanya bisa menghela nafas panjang. Apalagi setelah Ranti menghilang dari pandangan, sebaris kalimat muncul dari benakku-- bersama keinginan yang terkubur-- aku gagal lagi mendekati dan mengenal ulang gadis itu.

Memang, kuakui, aku begitu mengenal Ranti. Selama tiga bulan ini aku mengenalnya dalam sebuah kekaguman yang terus memaksaku untuk selalu berada di rumah makan itu setiap jam istirahat kantoran. Lima menit sebelum pukul 12:00 siang, aku telah menunggu di rumah makan itu. Di kursi paling sudut. Di tempat yang menurutku bisa leluasa menyelami gadis itu dari jarak dekat.

Tapi, Ranti sendiri tidak mengenalku. Ia juga tak pernah tahu, kalau aku berada di rumah makan itu hanya untuk melihat wajah ovalnya. Dan, sesungguhnya, aku berharap kelak Ranti mengenalku. Entah bagaimana caranya.

Suatu malam di Lagota Plaza. Kusandarkan pantatku yang penat di kursi plastik di salah satu tenda langgananku. Lagota masih sepi. Belasan tenda masih kosong pengunjung, kecuali aku yang telah menikmati secangkir juice alpokat kesukaanku.

Sambil menikmati alunan lagu "Surgamu" dari Ungu, aku menekan huruf demi huruf kecil di ponselku. Sebaris kalimat kutulis dalam sebuah SMS singkat: Malam Ranti, apa sudah mandi ya?

SMS itu langsung kukirim ke nomor ponsel Ranti. Tadi siang, aku berhasil mendapatkan nomor ponsel gadis itu. Ada dua nomor ponsel Ranti yang dikuterima dari seseorang yang mengaku teman baiknya. Satu nomor masih aktif, satu lagi telah diblokir.

Nada penerima SMS dari ponselku berdering. Sebuah SMS muncul di layar ponsel. Klik. Tanganku langsung membuka SMS itu. Sebuah SMS dari ponsel Ranti sebagai balasan SMS 'pembuka' perkenalan di antara kami. Isi SMS-nya begini: Siapa ya? Lo sok akrab banget sih.

Aku mengetik kalimat dalam ponselku untuk SMS jawaban SMS Ranti barusan: Aku telah lama mengenalmu. Aku termasuk pengagummu. Yap, sorri ya aku tak sopan kirim SMS ke ponselmu tanpa permisi.

Kamu siapa ya? Please, jangan bikin penasaran dong! Begitu SMS jawaban dari ponsel Ranti kembali masuk ke ponselku. Segera kujawab SMS Ranti: Aku Rendra. Bukan WS Rendra lho! Aku pengen jadi teman kamu. Boleh khan?

Darimana dapat nomor ponselku? Tanpa menjawab ajakan persahabatan yang kutawarkan kepadanya, isi SMS Ranti justru bernada seperti itu. Kamu ndak perlu tahu, itu pekerjaan mudah, jawabku masih via SMS.

Ya, begitulah awal mula aku bisa berkenalan dengan Ranti, meski hanya lewat SMS. Anehnya, Ranti tidak pernah mau menerima telponku, kendati aku berulangkali memencet nomor ponselnya. Jawaban yang selalu kudapat dari ponselnya hanya nada sibuk. Hanya nada dering sebuah lagu melankolis yang dilantunkan Bunga Citra Lestari yang tak kutahu apa judul lagu itu. Padahal, sesungguhnya, aku sangat berharap dapat mendengarkan langsung suara Ranti. Bukan suara Bunga Citra Lestari.

Suatu malam di Sampoddo. Rinai gerimis turun membasahi bukit kecil yang berada di tapal batas Kota Palopo ini. Barisan warung penjual jagung di sisi kiri jalan yang melingkar di bukit Sampoddo itu turut dingin merasakan cuaca malam yang berkabut.

Aku menyandarkan bahuku di tiang penyanggah salah satu warung. Kurapatkan jaketku menahan dingin yang menusuk tulang. Kuremas jemariku menghalau dingin yang menusuk sepuluh jari-jariku.

Ya, seperti biasanya, aku kembali menuliskan SMS panjang buat Ranti: Aku menawarkan sebuah persahabatan kepadamu. Sebuah pertemanan ibarat tangan dan mata. Kalau tangan terluka, mata ikut menangis. Kalau mata menangis, tangan menghapusnya.

Tak berselang beberapa lama, ponselku menerima SMS balasan: Kamu lagi..., apa tidak bosan menggangguku? Apa sih maunya kamu? Bersahabat denganmu, Ranti! Ya, balasan SMS Ranti ini langsung kukirim. Aku berharap segera dapat SMS balasannya. Namun, sampai gerimis berakhir malam itu, ponselku tak juga menerima SMS dari Ranti.

Tetapi, aku tetap mengirimkannya SMS. Aku tidak pernah bosan menulis SMS buat Ranti. Aku tidak pernah jenuh mengirimkan SMS yang isinya tetap sama: Seandainya suatu saat kita bisa makan siang bareng, aku tidak perlu lagi berburu lima menit jelang jam istirahat kantoran hanya untuk melihatmu menikmati sepiring nasi goreng.

Dua tahun yang lalu, di sebuah rumah makan di jalan Mangga, aku bertemu sahabat lama. Kami makan siang bersama, kendati kami hanya secara kebetulan bertemu di rumah makan itu. "Sudah lama ndak kelihatan," tanya Adit, sahabatku saat duduk di bangku SMP.

"Aku juga sudah lama mencarimu. Aku bersyukur, karena Tuhan mempertemukan kita secara tak sengaja di rumah makan ini," jawabku, seraya menawarkannya sebatang rokok.

"Aku dengar kamu bisnis rumput laut ya?" tanya Adit. "Usaha kecil-kecilan. Untungnya tidak seberapa," jawabku sekenanya. "Masih mendingan kamu punya pekerjaan, aku tetap pengangguran. Cari kerjaan susah kalo hanya bermodalkan ijasah SMP," katanya.

Adit memang hanya lulusan SMP. Waktu di SMP Cokroaminoto Palopo sembilan tahun lalu, Adit tidak lulus Ebtanas. Ia tidak melanjutkan sekolahnya. Kabar terakhir yang kudengar dari teman-teman di Cokro dulu, Adit ikut pamannya ke Gorontalo. Kabar lain yang kudengar Adit dipenjara karena terlibat kasus traffiking ke Kalimantan.

"Apa pekerjaanmu saat ini, Dit?" Tanpa menjawab pertanyaanku, Adit mengangkat ponselnya yang tiba-tiba berdering. "Halo bos, bagaimana kabarnya?" ujar Adit menjawab suara dari seberang yang menelponnya.

"Aku ada stok baru. Kalau cocok, bisa nego," kata Adit lagi lewat Nokia 9300 miliknya. "Stok yang satu ini dijamin asyik lo!" lanjut Adit dengan nada berpromosi. Aku bertanya dalam hati dan mencoba mengurai perkataan demi perkataan Adit. Tetapi, aku tidak bisa memaknai maksud dibalik perkataan Adit itu.

Sejurus kemudian, setelah ponselnya tidak lagi tersambung dengan seseorang di seberang sana, Adit menekan angka-angka di ponselnya. Tut-tut-tut. Adit mendengus. Wajahnya sedikit terlihat kesal. "Kenapa?" kucoba mengalihkan perhatiannya dengan bertanya. "Kalau dibutuhkan, HP-nya tidak aktif," jawab Adit, masih kesal.

"Teman bisnis," lanjut Adit, datar. "Bisnis apa?" "Bisnis yang tidak membutuhkan ijasah sarjana atau master. Bisnis ini hanya butuh kepercayaan kepada pelanggan. Modalnya cuma ponsel ini," jelas Adit.

Sama sekali aku tidak paham penjelasan Adit soal bisnisnya itu. Namun belum juga rasa penasaranku hilang, Adit menyela,"Kalau kamu mau, bisa saya kenalkan dengan teman bisnisku itu." "Aku tidak paham maksudmu?" "Aku seorang germo!" "Apa?" "Ya, bisnis yang tidak perlu sekolah tinggi-tinggi," katanya, enteng.

Tak berselang beberapa lama, ponsel Adit berdering. Cuma miskol. Namun, Adit buru-buru menghubungi nomor yang barusan miskol itu. "Kamu dimana sekarang? Ada tuh yang butuh diajak jalan-jalan," ungkap Adit. "Ah, sial..., dia haid," keluh Adit begitu kesal.

Namun, belum juga rasa kesal Adit hilang, seorang gadis tiba-tiba mendekatinya. Gadis itu berbisik di telinga Adit. Ia kemudian mengambil tempat duduk pas di depanku. Aku sempat bersitatap dengan gadis itu. Hanya sedetik, lalu tangannya kujabat setelah Adit memperkenalkan kami. "Ranti...," ujar gadis itu, tersenyum. "Rendra..." jawabku tersenyum membalas senyumnya. Ranti menolak halus ketika aku memintanya memesan minuman atau makanan buat lunch. "Terima kasih, aku masih kenyang. Aku buru-buru. Aku cuma mau bertemu Kak Adit. Aku mau mengucapkan terima kasih kepadanya," kata Ranti melirik Adit yang duduk di sampingnya.

"Berterima kasih untuk apa?" tanya Adit. "Aku lulus CPNS umum. Aku sangat berterima kasih berkat bantuan Kak Adit," katanya, girang, seraya memperlihatkan koran berisi pengumuman hasil CPNS 2005 yang diambil dari tasnya. "Sungguh? Selamat ya," kata Adit. "Selamat Ranti," ujarku kembali menyalaminya. Setelah itu, Ranti meninggalkan kami. Ia naik taksi di tengah terik matahari siang yang menyengat.

"Siapa gadis itu? Apa dia salah satu masuk dalam bisnismu?" tanyaku pada Adit setelah Ranti berlalu. Adit menggeleng, pelan. "Ia sama dengan aku. Ranti seorang germo. Ia bisa menyelesaikan kuliahnya karena bisnis itu. Kami sudah lama berteman." "Masa sih Ranti germo?" tanyaku tak percaya. "Dulu. Sekarang ini ia seorang PNS. Tadi dia membisiku sebaris kalimat itu, Kak Adit sekarang ini aku bukan lagi seorang germo," ungkap Adit.

"Nasib Ranti sangat beruntung. Dari germo jadi PNS," kataku. "Ya, ia sangat beruntung!" kata Adit, pelan.

Suatu malam, di penghujung Juni ini, aku kembali duduk sendiri di sebuah kursi plastik di Lagota. Es doger pesananku kesedot pelan mencoba mengusir kering di kerongkonganku. Sekali sedot, kerongkonganku langsung basah. Tubuhku segar.

Seperti biasanya, setiap menyepi, aku mengirimkan SMS buat Ranti. Mungkin, SMS seribu kali dari ponselku yang terkirim ke ponsel Ranti. Seribu SMS yang tak pernah terbalas.

Tapi, aku tak pernah bosan mengirimkan SMS buat Ranti. Aku rela menghabiskan pulsa untuk mengirimkan SMS yang entah dibaca atau tidak oleh Ranti, bagiku tak masalah. Kali ini, kutulis SMS yang kuharap Ranti tertarik membalasnya: Bagi dong gaji 13-nya....

SMS telah terkirim ke ponsel Ranti. Sedetik, dua detik, semenit, lima menit, belum juga ada SMS balasan kuterima. Kembali jemariku sibuk mengetik huruf demi huruf dalam layar Nokia 9500. Aku menulis SMS lagi buat Ranti. Aku berharap, SMS kali ini mendapat balasan.

Isi SMS-nya begini: Seandainya bisa aku menjadi orang paling berarti dalam hidupmu. Seandainya bisa aku menjadi sahabatmu, atau mungkin jadi kekasihmu. Ah, aku terlalu banyak berkhayal ya? Tut-tut-tut! Nada penerima SMS dari ponselku berbunyi. Jantungku berdegup kencang begitu mengetahui SMS-ku mendapat balasan dari ponsel Ranti. "Kamu sebenarnya siapa? Kamu mau apa?

Aku mau jadi sahabatmu..., jawabku lewat SMS pada ponsel Ranti. Aku sudah punya sahabat. Aku tak butuh sahabat, begitu jawaban SMS Ranti yang kuterima. Dan, Ranti mulai membalas SMS-ku. Aku mulai senang dan bahagia.

Kemudian, aku mengirimkan SMS lagi buat Ranti: Kalo begitu aku jadi kekasih kamu saja. Bgm? Maaf, aku telah lama menutup pintu hatiku buat laki-laki. Bagiku, tidak ada cinta yang abadi. Semua laki-laki itu buaya. C4P3 D3! Mengapa? Apa karena kamu pernah jadi germo? Apa karena kamu banyak mengenal laki-laki hidung belang?

Kamu tahu darimana kalau aku pernah jadi germo? Itu masa laluku. Jangan ungkit-ungkit lagi. Aku telah lama menguburnya dalam-dalam. Aku telah membuka lembaran baru dan telah melupakannya.

Aku tahu, Ranti! Setiap orang punya masa lalu yang indah, manis, pahit, ataupun mengecewakan sekalipun. Lalu, kamu mau apa dariku? Aku bukan germo lagi. Ya, aku tahu itu. Sudah dua tahun khan? Makanya, aku kirim SMS sama kamu minta ditraktir karena kamu baru terima gaji 13. Kamu seorang PNS. Germo yang jadi PNS. Aku bangga sama kamu, Ranti!

Please, jangan ganggu aku! Ok, aku tidak akan pernah kirim SMS atau menelponmu. Cuma, aku ajukan satu syarat. Apa syaratnya? Kamu harus menemani aku makan siang satu kali saja. Aku tunggu kamu saat jam istirahat kantoran. Ingat, lima menit sebelum jam istirahat kutunggu kamu di rumah makan di jalan Mangga itu. Aku tidak punya waktu. Aku sibuk. Banyak kerjaan kantor. Sekali saja. Setelah itu aku janji tidak akan kirim SMS lagi. Swear!

Kenapa kamu begitu ngotot mau makan siang denganku? Kamu khan bisa ajak pacarmu, istri, atau siapa saja. Kamu mau tahu kenapa? Aku terlalu mengagumi. Sudah dua tahun ini, aku selalu menunggu di rumah makan itu saat jam istirahat kantoran. Oke, kalau aku punya waktu saya SMS kamu. Baik. Saya tunggu SMS-nya. Trims. Itulah SMS terakhir Ranti yang masuk ke ponselku.

Aku tidak pernah lagi bisa mengirimkan SMS ke ponsel Ranti, karena sejak SMS itu nomor ponselnya telah berganti. SMS dari Ranti mengenai makan siang itu tidak pernah masuk ke ponselku.

Meski begitu, satu yang tidak pernah berubah dariku, setiap jam istirahat kantoran, lima menit sebelum pukul 12:00 siang, aku telah menunggu Ranti di rumah makan di jalan Mangga itu. Inilah saat-saat terindah dalam hidupku bisa melihat wajah Ranti yang selalu kukagumi. Aku bisa mengamati tubuh Ranti yang langsing berbalut pakaian dinas PNS. Dan, setiap kali melihat Ranti duduk sendiri menikmati nasi goreng seafood kesukaannya, setiap itu pula muncul kekagumanku kepadanya.

Aku terkadang bertanya tanpa jawaban sampai saat ini, apakah Ranti belum bisa percaya sama kaumku, karena ia pernah mengenal begitu banyak pria yang memintanya mencarikan wanita penyedia seks instan?

Ranti sahabatku dalam khayal, tidak semua laki-laki berperilaku bejat seperti laki-laki yang pernah kau kenal. Tuhan menciptakan wanita dan laki-laki untuk berpasang-pasangan dan saling mencintai, termasuk kamu, aku, termasuk seorang pelacur sekalipun. Cinta itu suci. Cinta itu milik semua insan. (*)

Teruntuk yang terkasih: Irmawati, istriku tercinta, dan dua anakku, Wisnu Ainun Prestiawan, dan Aditya Ainun Baderu.

Tidak ada komentar: