Rabu, 28 November 2007

Pemkot Palopo Tetap Bangun Pasar Modern

* H Faisal: 90 Persen Pedagang PNP Menolak

PALOPO--Pedagang Pusat Niaga Palopo (PNP), menolak rencana pembangunan pasar modern di Jl DR Ratulangi, Kota Palopo. Mereka khawatir, pasar modern itu akan mematikan usaha pedagang tradisional di daerah ini. Meski sarat penolakan dari masyarakat, termasuk pedagang tradisional, Pemkot Palopo tetap akan membangun pasar modern ini dari pinjaman dana Bank Dunia senilai Rp44 miliar.
Sebab, pembangunan pasar modern ini telah lama direncanakan dan matang. "Kita tetap akan menjalankan program itu (maksudnya, pasar modern, Red), karena Pemkot telah merencanakannya secara matang selama tiga tahun," kata Walikota Palopo, HPA Tenriadjeng, saat mengikuti reboisasi Bukit Sampoddo, Rabu 28 November, kemarin.
Pasar modern sebagai salah satu program pemerintah, tegas Tenriadjeng, adalah upaya mensejahterakan masyarakat Palopo, bukan untuk mencari keuntungan kelompok, atau personal di daerah ini.
Ia mengharapkan agar masyarakat tidak bersikap apatis dan pesimis menanggapi berbagai rencana pembangunan di Kota Palopo, tetapi meski mendukung program Pemkot yang bermuara mensejahterakan masyarakat itu.
TETAP DITOLAK
Sementara itu, sejumlah pedagang di PNP, menyatakan penolakannya terhadap rencana pembangunan pasar modern. Supriadi misalnya, pemilik los FF-6/No.7 PNP, secara tegas menyatakan, pembangunan pasar modern ini, akan mematikan usaha pedagang PNP, yang sebagian besar masih dililit kredit di bank.
"Seharusnya, Pemkot mengoptimalkan keberadaan PNP dan Pasar Andi Tadda, sebelum berencana membangunan pasar modern," katanya.
Supriadi menyatakan, PNP saja belum optimal, karena masih sekitar 200-an los yang kosong. "Pasar modern memang mendukung Palopo, tetapi sekarang ini belum tepat, karena perekonomian Palopo belum membaik. Daya beli masyarakat Palopo masih rendah," katanya, seraya menyatakan, omset pedagang PNP sekarang ini menurun drastis hanya berkisar Rp100 ribu per pedagang akibat daya beli yang rendah.
Senada itu, Kaharuddin, pedagang PNP di los Blok C/No.7, menyatakan, rencana pembangunan pasar modern tidak tepat sasaran. "Pasar modern itu akan mematikan usaha pedagang di PNP, karena sebenarnya kalau mau jujur, PNP ini sudah semi pasar modern," katanya.
Yang harus dilakukan Pemkot saat ini, ungkap Kaharuddin, adalah membenahi PNP. "Sebab, PNP sebagai pasar semi modern, kondisinya sekarang ini memprihatikan karena omset pedagang kian hari kian menurun akibat rendahnya daya beli masyarakat," katanya, seraya menyatakan, bila Pemkot tetap memaksakan membangun pasar modern, sama saja mematikan usaha pedagang kecil, termasuk pedagang di PNP.
H Faisal, pedagang PNP lainnya, juga menolak rencana pembangunan pasar modern. Bahkan, ia menegaskan, sekitar 90 persen pedagang PNP, termasuk pedagang di Pasar Andi Tadda, menolak rencana pembangunan pasar modern. "Sebab, kami sadar, pasar modern ini akan membunuh usaha kami," katanya.
Masih menurutnya, seharusnya Pemkot Palopo bila ingin membangun pasar modern, tidak menggunakan dana pinjaman Bank Dunia. Tetapi katanya, pembangunan pasar modern mesti didanai investor. "Dan, terus terang, bila pasar modern berprospek di Palopo, sejak lama investor masuk ke Palopo. Kenyataannya tidak, karena daya beli masyarakat Palopo yang rendah," katanya. (chairul baderu)

Tidak ada komentar: