Kamis, 06 Desember 2007

- Kisah Ibu Muda Tertular HIV/AIDS di Kota Palopo (1)


"Setelah Suami Positif AIDS, Hidupku Berubah..."

Perjalanan hidup Juliet (samaran, Red) begitu pahit. Bersama suaminya-- belum lama ini meninggal dunia-- tertular HIV/AIDS. Namun, ibu dua anak ini
tetap teguh menjalani kehidupannya bersama anak-anaknya yang masih kecil di salah satu kelurahan di Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo. Bahkan, ibu muda ini ikut peduli dan mengkampanyekan bahaya HIV/AIDS bagi masyarakat. Berikut curahan hatinya, ketika ditemui di kediamannya, Rabu 5 Desember 2007.
------------------------------

AKU lahir di Palopo, 23 September 1981, dari sebuah keluarga yang sederhana. Tidak perlulah saya menceritakan keluargaku, terutama kedua orangtua dan saudaraku, karena saya hanya ingin berkisah tentang kehidupanku sendiri. Aku tidak ingin melibatkan keluargaku.
Semasa masih duduk di bangku SMP, aku termasuk gadis remaja yang supel bergaul. Aku punya banyak teman, baik cowok maupun cewek. Kehidupan masa remajaku sangat bahagia, apalagi setelah aku duduk di bangku SMA.
Aku mulai jatuh cinta dan punya pacar, sebut saja Romeo. Ia bukan pemuda dari kota ini, tetapi aku mencintainya dan kami saling menyayangi. Dan, pada tahun 2001, selepas SMA, Romeo mempersuntingku sebagai istrinya. Kala itu, aku sangat bahagia bisa menjadi istri pemuda yang sangat kucintai itu.
Awal pernikahanku dengan Romeo, kehidupan rumah tanggaku sangat bahagia dan harmonis. Kami hidup rukun dan bahagia. Tetapi, kebahagian itu tidak berlangsung lama, karena ternyata suamiku yang sangat kucintai itu, ternyata seorang pemakai Narkoba. Aku sangat terpukul dan sedih mengetahui Romeo pecandu Narkoba.
Hari-hari selanjutnya dalam rumah tanggaku setelah mengetahui Romeo pemakai Narkoba, mulai diwarnai pertengkaran demi pertengkaran. Hampir setiap hari, kami bertengkar, meski hanya dipicu persoalan sepele. Dan, pertengkaran ini terus berlanjut sampai kami dikaruniahi dua orang anak yang lucu-lucu.
SUAMI TERTULAR
Tidak terasa, usia perkawinanku dengan Romeo memasuki tahun kelima, tepatnya tahun 2006. Suatu hari, Romeo jatuh sakit. Ia merasakan nyeri teramat pada paru-parunya, hingga ia dirawat di salah satu rumah sakit di Makassar.
Sebagai istri, aku menemani suamiku selama dirawat di RS. Dokter yang merawat suamiku meminta agar suamiku menjalani pemeriksaan di VCT Makassar. Dokter mendiagnosa suamiku terjangkit HIV/AIDS.
Sungguh, mendengar penjelasan dokter, aku shock berat. Aku sangat sedih, tetapi berusaha tetap sabar dan tegar. Dan, sejak saat itu, timbul perasaan kasihan dan semakin sayang pada suamiku. Aku tidak bisa meninggalkan suamiku dalam keadaan seperti itu.
Suatu hari, aku membujuk suamiku untuk menjalani pemeriksaan di VCT. Awalnya, ia menolak dan berdalih tidak sakit apa-apa. Tetapi, saya terus membujuknya, dan akhirnya ia bersedia menjalani pemeriksaan di VCT.
Setelah menjalani pemeriksaan, dokter memanggilku ke ruangannya. Hanya aku sendiri. Dokter menjelaskan bahwa suamiku positif mengidap HIV/AIDS dengan stadium 3. Salah satu ciri-cirinya, kulit suamiku mulai mengelupas.
Aku tidak langsung memberitahukan hasil pemeriksaan VCT kepada suamiku. Aku tunggu saat yang tepat untuk memberitahukannya, karena aku takut suamiku nanti shock berat mengetahui dirinya positif tertular HIV/AIDS. Dan, saat yang tepat tiba, aku memberitahukan bahwa dirinya positif tertular HIV/AIDS.
Seperti dugaanku, suamiku sangat terpukul mengetahui dirinya tertular HIV/AIDS. Ia shock berat. Ia stress, bahkan hampir gila karena depresi berat.
Aku tetap setia mendampingi suamiku dan memberinya dorongan semangat. Lama prosesnya. Dan, suamiku akhirnya bisa menerima kondisi kesehatannya. Bahkan, suamiku bersedia menjalani berbagai rangkaian terapi.
***
Wartawan Palopo Pos, tidaklah mudah dan gampang bisa mewawancarai Juliet. Saat pertama kali janjian, Selasa malam, 4 Desember, sekitar pukul 23.00 Wita via telpon, Juliet tak langsung setuju. Ia mengajukan beberapa persyaratan kepada koran ini.
Beberapa persyaratan itu, semisal Juliet tidak mau difoto, ia minta nama disamarkan, termasuk syarat lainnya alamatnya tidak ditulis jelas. "Saya mau diwawancarai asalkan syarat itu dipenuhi," kata Juliet.
Setelah tercapai deal, Juliet akhirnya bersedia ditemui di rumahnya, Rabu 5 Desember, pukul 08.00 Wita. "Saya ingin berbagi cerita kehidupan saya sebagai salah seorang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) supaya masyarakat mengetahui bahaya penyakit ini. Saya tidak ingin apa yang saya alami dan suamiku menimpah orang lain. Kita bisa kehilangan orang yang kita cintai dan sayangi karena HIV/AIDS, contohnya saya. Ya, saya ingin sisa hidupku lebih berarti bagi orang lain," kata Juliet.
Didampingi dua anaknya yang masih lucu-lucunya, Juliet menceritakan bagaimana awalnya suami dan dirinya tertular HIV/AIDS. Ceritanya panjang dan penuh kisah sedih, apalagi kini suaminya telah meninggal dunia karena HIV/AIDS. Dan, selama berkisah tentang kehidupannya, Juliet selalu terisak karena tak kuasa membendung kesedihannya. Pembaca yang budiman, kisah Juliet selanjutnya bisa dibaca pada Palopo Pos, edisi Jumat, 7 Desember, besok. (bersambung/chairul baderu)




Tidak ada komentar: