Kamis, 06 Desember 2007

- Kisah Ibu Muda Tertular HIV/AIDS di Kota Palopo (2)


"Aku Positif, Dua Anakku Negatif..."

Empat bulan dirawat di rumah sakit, setelah didiagnosa positif mengidap HIV/AIDS stadium 3, suamiku meninggal dunia. Aku melihat saat-saat terakhir suamiku menghembuskan nafas, karena HIV/AIDS yang telah lima tahun lebih menggerogoti tubuhnya.
------------------------------

SEPULUH hari setelah mengetahui suamiku positif mengidap HIV/AIDS, perasaanku mulai diliputi kecemasan dan khawatir, jangan-jangan aku juga telah tertular penyakit itu. Alasannya sangat sederhana, aku ini istrinya. Lama aku merenung, hingga akhirnya aku memutuskan untuk memeriksakan diri ke VCT di rumah sakit tempat suamiku dirawat.
Awalnya, dokter melarangku untuk memeriksakan diri ke VCT, karena khawatir aku akan shock atau depresi bila mengetahui hasil pemeriksaan nanti. Dokter memang menyatakan, sebagai istri seorang pengidap HIV/AIDS, aku sangat berpotensi tertular.
Tapi, aku tetap berkeinginan memeriksakan diri. Aku ingin memastikan apakah aku tertular HIV/AIDS atau tidak. Dan, akhirnya, aku menjalani pemeriksaan.
Apa hasilnya? Sudah bisa ditebak pembaca yang budiman, aku juga positif tertular HIV/AIDS. Aku tertular penyakit ini dari suamiku.
Aku sempat shock berat mengetahui tubuhku juga telah mengidap HIV/AIDS. Tapi, aku harus menerima keadaan dan kenyataan ini. Aku harus tegar menerima kenyataan itu.
Hasil pemeriksaan VCT itu kemudian kusampaikan kepada suamiku yang tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sungguh, suamiku kaget dan merasa bersalah, karena penyakitnya telah menulariku.
Suamiku tertular penyakit ini bukan karena berhubungan seksual dengan berbagai wanita nakal. Suamiku tertular HIV/AIDS karena sering menggunakan Narkoba jenis suntik.
Singkat kisah, suamiku selama empat bulan menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya meninggal dunia. Ia meninggal dunia karena HIV/AIDS. Dan, aku yang telah positif mengidap penyakit yang sama, hanya pasrah menyaksikan maut menjemput suamiku.
Dan, kubayangkan ketika itu, suatu saat nanti, aku juga akan mengalaminya. Aku akan meninggal dunia karena HIV/AIDS.
Setelah suamiku meninggal dunia, aku yang telah positif mengidap HIV/AIDS, harus hidup sendiri dengan dua anak yang masih kecil-kecil.
Pembaca yang budiman, aku kemudian mengingat dua anakku itu. Timbul kecemasan dalam diriku, apakah kedua anakku juga tertular HIV/AIDS? Aku harus memeriksakan mereka ke VCT untuk memastikannya.
Dan, dua anakku pun menjalani pemeriksaan. Hasilnya, aku patut bersyukur, karena ternyata dua anakku negatif. Ini berarti, dua anakku tidak tertular HIV/AIDS dari kedua orangtuanya. Aku tidak bisa membayangkan, seandainya mereka juga mengidap HIV/AIDS.
(bersambung/chairul baderu)



Tidak ada komentar: