Kamis, 06 Desember 2007
- Kisah Ibu Muda Tertular HIV/AIDS di Kota Palopo (2)
"Aku Positif, Dua Anakku Negatif..."
Empat bulan dirawat di rumah sakit, setelah didiagnosa positif mengidap HIV/AIDS stadium 3, suamiku meninggal dunia. Aku melihat saat-saat terakhir suamiku menghembuskan nafas, karena HIV/AIDS yang telah lima tahun lebih menggerogoti tubuhnya.
------------------------------
SEPULUH hari setelah mengetahui suamiku positif mengidap HIV/AIDS, perasaanku mulai diliputi kecemasan dan khawatir, jangan-jangan aku juga telah tertular penyakit itu. Alasannya sangat sederhana, aku ini istrinya. Lama aku merenung, hingga akhirnya aku memutuskan untuk memeriksakan diri ke VCT di rumah sakit tempat suamiku dirawat.
Awalnya, dokter melarangku untuk memeriksakan diri ke VCT, karena khawatir aku akan shock atau depresi bila mengetahui hasil pemeriksaan nanti. Dokter memang menyatakan, sebagai istri seorang pengidap HIV/AIDS, aku sangat berpotensi tertular.
Tapi, aku tetap berkeinginan memeriksakan diri. Aku ingin memastikan apakah aku tertular HIV/AIDS atau tidak. Dan, akhirnya, aku menjalani pemeriksaan.
Apa hasilnya? Sudah bisa ditebak pembaca yang budiman, aku juga positif tertular HIV/AIDS. Aku tertular penyakit ini dari suamiku.
Aku sempat shock berat mengetahui tubuhku juga telah mengidap HIV/AIDS. Tapi, aku harus menerima keadaan dan kenyataan ini. Aku harus tegar menerima kenyataan itu.
Hasil pemeriksaan VCT itu kemudian kusampaikan kepada suamiku yang tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sungguh, suamiku kaget dan merasa bersalah, karena penyakitnya telah menulariku.
Suamiku tertular penyakit ini bukan karena berhubungan seksual dengan berbagai wanita nakal. Suamiku tertular HIV/AIDS karena sering menggunakan Narkoba jenis suntik.
Singkat kisah, suamiku selama empat bulan menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya meninggal dunia. Ia meninggal dunia karena HIV/AIDS. Dan, aku yang telah positif mengidap penyakit yang sama, hanya pasrah menyaksikan maut menjemput suamiku.
Dan, kubayangkan ketika itu, suatu saat nanti, aku juga akan mengalaminya. Aku akan meninggal dunia karena HIV/AIDS.
Setelah suamiku meninggal dunia, aku yang telah positif mengidap HIV/AIDS, harus hidup sendiri dengan dua anak yang masih kecil-kecil.
Pembaca yang budiman, aku kemudian mengingat dua anakku itu. Timbul kecemasan dalam diriku, apakah kedua anakku juga tertular HIV/AIDS? Aku harus memeriksakan mereka ke VCT untuk memastikannya.
Dan, dua anakku pun menjalani pemeriksaan. Hasilnya, aku patut bersyukur, karena ternyata dua anakku negatif. Ini berarti, dua anakku tidak tertular HIV/AIDS dari kedua orangtuanya. Aku tidak bisa membayangkan, seandainya mereka juga mengidap HIV/AIDS.
(bersambung/chairul baderu)
- Kisah Ibu Muda Tertular HIV/AIDS di Kota Palopo (1)
"Setelah Suami Positif AIDS, Hidupku Berubah..."
Perjalanan hidup Juliet (samaran, Red) begitu pahit. Bersama suaminya-- belum lama ini meninggal dunia-- tertular HIV/AIDS. Namun, ibu dua anak ini
tetap teguh menjalani kehidupannya bersama anak-anaknya yang masih kecil di salah satu kelurahan di Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo. Bahkan, ibu muda ini ikut peduli dan mengkampanyekan bahaya HIV/AIDS bagi masyarakat. Berikut curahan hatinya, ketika ditemui di kediamannya, Rabu 5 Desember 2007.
------------------------------
AKU lahir di Palopo, 23 September 1981, dari sebuah keluarga yang sederhana. Tidak perlulah saya menceritakan keluargaku, terutama kedua orangtua dan saudaraku, karena saya hanya ingin berkisah tentang kehidupanku sendiri. Aku tidak ingin melibatkan keluargaku.
Semasa masih duduk di bangku SMP, aku termasuk gadis remaja yang supel bergaul. Aku punya banyak teman, baik cowok maupun cewek. Kehidupan masa remajaku sangat bahagia, apalagi setelah aku duduk di bangku SMA.
Aku mulai jatuh cinta dan punya pacar, sebut saja Romeo. Ia bukan pemuda dari kota ini, tetapi aku mencintainya dan kami saling menyayangi. Dan, pada tahun 2001, selepas SMA, Romeo mempersuntingku sebagai istrinya. Kala itu, aku sangat bahagia bisa menjadi istri pemuda yang sangat kucintai itu.
Awal pernikahanku dengan Romeo, kehidupan rumah tanggaku sangat bahagia dan harmonis. Kami hidup rukun dan bahagia. Tetapi, kebahagian itu tidak berlangsung lama, karena ternyata suamiku yang sangat kucintai itu, ternyata seorang pemakai Narkoba. Aku sangat terpukul dan sedih mengetahui Romeo pecandu Narkoba.
Hari-hari selanjutnya dalam rumah tanggaku setelah mengetahui Romeo pemakai Narkoba, mulai diwarnai pertengkaran demi pertengkaran. Hampir setiap hari, kami bertengkar, meski hanya dipicu persoalan sepele. Dan, pertengkaran ini terus berlanjut sampai kami dikaruniahi dua orang anak yang lucu-lucu.
SUAMI TERTULAR
Tidak terasa, usia perkawinanku dengan Romeo memasuki tahun kelima, tepatnya tahun 2006. Suatu hari, Romeo jatuh sakit. Ia merasakan nyeri teramat pada paru-parunya, hingga ia dirawat di salah satu rumah sakit di Makassar.
Sebagai istri, aku menemani suamiku selama dirawat di RS. Dokter yang merawat suamiku meminta agar suamiku menjalani pemeriksaan di VCT Makassar. Dokter mendiagnosa suamiku terjangkit HIV/AIDS.
Sungguh, mendengar penjelasan dokter, aku shock berat. Aku sangat sedih, tetapi berusaha tetap sabar dan tegar. Dan, sejak saat itu, timbul perasaan kasihan dan semakin sayang pada suamiku. Aku tidak bisa meninggalkan suamiku dalam keadaan seperti itu.
Suatu hari, aku membujuk suamiku untuk menjalani pemeriksaan di VCT. Awalnya, ia menolak dan berdalih tidak sakit apa-apa. Tetapi, saya terus membujuknya, dan akhirnya ia bersedia menjalani pemeriksaan di VCT.
Setelah menjalani pemeriksaan, dokter memanggilku ke ruangannya. Hanya aku sendiri. Dokter menjelaskan bahwa suamiku positif mengidap HIV/AIDS dengan stadium 3. Salah satu ciri-cirinya, kulit suamiku mulai mengelupas.
Aku tidak langsung memberitahukan hasil pemeriksaan VCT kepada suamiku. Aku tunggu saat yang tepat untuk memberitahukannya, karena aku takut suamiku nanti shock berat mengetahui dirinya positif tertular HIV/AIDS. Dan, saat yang tepat tiba, aku memberitahukan bahwa dirinya positif tertular HIV/AIDS.
Seperti dugaanku, suamiku sangat terpukul mengetahui dirinya tertular HIV/AIDS. Ia shock berat. Ia stress, bahkan hampir gila karena depresi berat.
Aku tetap setia mendampingi suamiku dan memberinya dorongan semangat. Lama prosesnya. Dan, suamiku akhirnya bisa menerima kondisi kesehatannya. Bahkan, suamiku bersedia menjalani berbagai rangkaian terapi.
***
Wartawan Palopo Pos, tidaklah mudah dan gampang bisa mewawancarai Juliet. Saat pertama kali janjian, Selasa malam, 4 Desember, sekitar pukul 23.00 Wita via telpon, Juliet tak langsung setuju. Ia mengajukan beberapa persyaratan kepada koran ini.
Beberapa persyaratan itu, semisal Juliet tidak mau difoto, ia minta nama disamarkan, termasuk syarat lainnya alamatnya tidak ditulis jelas. "Saya mau diwawancarai asalkan syarat itu dipenuhi," kata Juliet.
Setelah tercapai deal, Juliet akhirnya bersedia ditemui di rumahnya, Rabu 5 Desember, pukul 08.00 Wita. "Saya ingin berbagi cerita kehidupan saya sebagai salah seorang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) supaya masyarakat mengetahui bahaya penyakit ini. Saya tidak ingin apa yang saya alami dan suamiku menimpah orang lain. Kita bisa kehilangan orang yang kita cintai dan sayangi karena HIV/AIDS, contohnya saya. Ya, saya ingin sisa hidupku lebih berarti bagi orang lain," kata Juliet.
Didampingi dua anaknya yang masih lucu-lucunya, Juliet menceritakan bagaimana awalnya suami dan dirinya tertular HIV/AIDS. Ceritanya panjang dan penuh kisah sedih, apalagi kini suaminya telah meninggal dunia karena HIV/AIDS. Dan, selama berkisah tentang kehidupannya, Juliet selalu terisak karena tak kuasa membendung kesedihannya. Pembaca yang budiman, kisah Juliet selanjutnya bisa dibaca pada Palopo Pos, edisi Jumat, 7 Desember, besok. (bersambung/chairul baderu)
Minggu, 02 Desember 2007
Tenriadjeng Direkomendir Cawalkot Tunggal di Golkar
Penulis: Chairul Baderu
* AMPI Usul Empat Figur Muda Jadi Calon "02"
PALOPO--Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kota
Palopo, Sabtu 1 Desember, dalam rapat pleno di Hotel
Agrowisata, mengeluarkan pernyataan politik yang
intinya memberikan dukungan bagi HPA Tenriadjeng untuk
memimpin kembali Kota Palopo periode 2008-2013. Salah
satu organisasi sayap bentukan Partai Golkar ini,
bahkan secara kelembagaan telah merekomendasikan nama
HPA Tenriadjeng sebagai calon walikota (Cawalkot)
tunggal untuk mengendarai Partai Golkar Palopo.
Selain itu, AMPI juga merekomendasikan figur
muda yang akan mendampingi Tenriadjeng pada Pilwalkot
2008. Ada empat figur muda yang direkomendasikan
sebagai calon walil walikota yang akan mendampingi
Tenriadjeng. Hanya saja, AMPI belum melansir empat nama
figur muda itu.
"Kita sudah siapkan empat usulan nama figur
muda yang berpasangan dengan HPA Tenriadjeng. Tapi,
kami belum mau menyebutkan empat nama itu, karena masih
akan dikonsultasikan dengan HPA Tenriadjeng," ungkap
Ketua AMPI Palopo, Ridwan Fattah, usai memimpin rapat
pleno AMPI Palopo, Sabtu 1 Desember.
Didampingi Wakil Ketua Bidang Organisasi dan
Kader AMPI, Rahman Rahim, Ridwan menyatakan, pihaknya
telah bulat dan sepakat merekomendasikan nama HPA
Tenriadjeng sebagai Cawalkot tunggal yang akan
mengendarai Partai Golkar pada Pilwalkot.
AMPI menjagokan Tenriadjeng mengendarai Partai
Golkar, salah satu alasannya, karena Tenriadjeng
dinilai sebagai figur yang telah terbukti berhasil
membangun Kota Palopo lima tahun ini. Alasan kedua,
agar pembangunan yang telah nyata ini bisa
berkelanjutan, Tenriadjeng dianggap masih sangat layak
memimpin Palopo lima tahun ke depan.
"AMPI mendukung Tenriadjeng kembali memimpin
Palopo lima tahun ke depan. Dan, Partai Golkar yang
dikendarai Tenriadjeng lima tahun lalu, mesti
mencalonkan Tenriadjeng kembali pada Pilwalkot 2008,"
tegas Ridwan, seraya menyatakan, AMPI Palopo akan
menyerahkan rekomendasi dukungannya bagi Tenriadjeng
kepada DPD II Partai Golkar Palopo.
Menurut Ridwan, bila Tenriadjeng diganti
memimpin Palopo lima tahun ke depan, AMPI menilai
pembangunan yang telah terselenggara selama lima tahun
ini akan tersendat. Sebab, bila Palopo dipimpin figur
baru, kebijakan dan arah pembangunan yang telah
terlaksana selama ini di Palopo akan berubah, seiring
terjadinya pergantian kepemimpinan oleh figur baru.
Sementara itu, Pimpinan Partai Golkar Kecamatan
Telluwanua, Minggu 2 Desember, kemarin, juga menyatakan
dukungannya kepada HPA Tenriadjeng untuk mengendarai
Partai Golkar Palopo. "Sesuai aspirasi masyarakat
Telluwanua, kami mendukung HPA Tenriadjeng mengendarai
partai Golkar. Sebab, beliau dinilai sukses dan
berhasil memimpin Palopo lima tahun ini," kata Ketua
Pimpinan Kecamatan Partai Golkar Telluwanua,
Badaruddin.
Di samping itu, Dewan Pimpinan Partai Golkar
Telluwanua menyoroti lambatnya Partai Golkar menetapkan
nama calon walikota dan wakilnya. Padahal, tahapan
Pilwalkot tersisa beberapa hari lagi, tepatnya 5
Desember mendatang.
"Seharusnya, pertengahan November lalu, Golkar
telah menetapkan calon walikota dan wakil walikota yang
diusungnya, supaya bisa disosialisasikan kepada
masyarakat. Tapi, sampai sekarang ini, Golkar belum
menetapkannya. Ini terlambat," kritik Badaruddin.
Wakil Ketua DPD II Partai Golkar Palopo,
Syarifuddin Kasra yang dikonfirmasi terpisah, mengakui,
Golkar memang terlambat menetapkan calon walikota dan
wakil walikota. "Seharusnya akhir November lalu sudah
ditetapkan nama calon walikota dan wakil walikota,"
kata Kasra.
Menurutnya, lambannya Golkar menetapkan calon
walikota dan wakil walikota, mempengaruhi sosialisasi
calon kepada masyarakat. "Jadi, harus disadari, Golkar
sangat terlambat menetapkan calon," kata Kasra.
Ditanya bagaimana tanggapannya terkait beberapa
nama calon yang menguat di Golkar, Kasra menyatakan,
secara pribadi ia menjagokan Tenriadjeng. Salah satu
alasannya, sembilan pimpinan kecamatan Partai Golkar
mendukung Tenriadjeng mengendarai Golkar. "Beliau juga
sangat berpeluang memenangkan Pilwalkot, karena masih
diinginkan masyarakat memimpin Palopo, sehingga Golkar
seharusnya tidak menafikan aspirasi masyarakat itu,"
kata Kasra.
Soal manuver politik yang dilancarkan PDIP,
Kasra justru menilai, manuver politik PDIP itu biasa
saja. Bahkan, Kasra secara tegas menyatakan, Golkar tak
gentar menghadapi PDIP. "Sebab, kita yakin, Golkar akan
memenangkan Pilwalkot, apalagi bila calon walikotanya
adalah HPA Tenriadjeng," tegasnya. (chairul baderu)
Kamis, 29 November 2007
Temani Aku Makan Siang, Please ...."
.jpg)
Oleh: Chairul Baderu
MATAHARI begitu menyengat di jalan Mangga, suatu siang di Kota Palopo. Debu beterbangan tersapu angin. Deru kendaraan bermotor silih berganti seakan ingin memecahkan gendang telinga. Ah, aku menghela nafas pendek. Kuusap wajahku pelan. Kubersihkan debu yang baru saja singgah di wajahku. Namun, kedua kakiku terus berjalan memasuki sebuah rumah makan yang berada di simpang jalan Mangga yang tak pernah sepi dari hiruk pikuk warga kota ini.
Kuambil sebuah tempat duduk paling sudut dalam rumah makan yang terkenal dengan menu ikan bakarnya. Belum juga pantatku panas duduk di kursi besi berlapis karpet tipis, seorang pelayan mendekatiku. "Pesan apa?" sapanya, ramah sambil menyerahkan daftar menu. "Oranye juice saja dan dua buah kue bolu," jawabku, seraya mataku melirik jam tangan. Lima menit lagi jam istirahat kantoran.
Ya, setiap hari aku duduk di rumah makan yang berada di pusat keramaian tak jauh dari terminal Palopo itu. Setiap detik yang terlewatkan di rumah makan itu, setiap saat itu juga mataku menatap ke pintu utama rumah makan itu. Dan, lima menit yang akan terlewatkan sangat membosankan. Jarum jam bergerak begitu lamban. Lama.
Pelayan rumah makan itu begitu mengenalku. Hampir setiap hari aku berada di rumah makan tempatnya bekerja. Dan, ia juga hafal benar kedatanganku lima menit sebelum jam istirahat kantoran tiba.
Belum juga pesananku tiba di meja, mataku tertuju pada seorang gadis yang berjalan memasuki pintu rumah makan yang setiap hari ramai dikunjungi para pebisnis yang akan mengisi perutnya yang keroncongan setelah bergelut pekerjaan setengah harian.
Aku kenal betul gadis itu. Rambutnya yang panjang sebahu, hidungnya yang mancung, dan tatapan matanya yang tajam, bahkan setiap gerakan kakinya aku hafal betul. Bagaimana tidak mengenal benar gadis itu, hampir tiga bulan ini aku mengamatinya. Setiap hari aku berada di rumah makan itu, hanya untuk mengamati setiap langkah kakinya. Lima menit jelang jam istirahat kantoran, aku sudah menunggu di dalam rumah makan itu hanya untuk bisa melihat dua bola matanya yang tajam.
Pernah aku berpikir, sorot mata gadis itu begitu sombong. Begitu angkuh dan tak bersahabat. Namun, pelayan rumah makan yang mengaku mengenal baik gadis itu menyatakan, gadis itu sangat baik. "Kalau sudah mengenalnya, Ranti sangat baik dan bersahabat," kata pelayan itu, suatu hari ketika aku tengah menghitung detik demi detik dalam rentang lima menit menunggu jam istirahat kantoran.
Ya, gadis itu bernama Ranti. Dulu, dua tahun lalu, aku pernah mengenalnya. Aku pernah menjabat tangannya. Tetapi, perkenalan itu tak lebih dari lima menit. Sebuah perkenalan singkat bagiku, tetapi membawa banyak kisah dan cerita yang belum terurai. Dan, aku masih mengenal gadis itu. Tetapi Ranti tidak lagi mengenalku. Mungkin karena kami hanya berkenalan dalam hitungan menit saja. Perkenalan itu juga sudah berlalu dua tahun lamanya.
Seperti biasanya, setelah Ranti berada di dalam rumah makan ini, aku hanya bisa memandanginya dari jarak lima meteran. Ia pesan nasi goreng, pikirku, karena menurut pelayan ia penyuka nasi goreng seafood. Aku memang sering melihatnya begitu lahap mengunyah nasi goreng.
Aku hanya bisa memandangnya tanpa berani mendekatinya. Aku hanya bisa mencuri pandang dari jarak dekat yang hanya membutuhkan waktu tak lebih dari lima menit untuk berjalan mendekatinya.
Pernah suatu ketika terbersit sebuah keinginan dalam hati untuk mendekati Ranti. Keinginan itu begitu menggebu. Dadaku sampai sesak, karena keinginan itu terus mendesakku. Ia memaksaku. Keinginan itu sampai memakiku sebagai pria pengecut. Tapi, seperti biasanya, keinginan itu hanya ada di dalam hati terdalam. Keinginan itu terkubur bersama selesainya sepiring nasi goreng pesanannya.
Dan, kalau sudah begitu, aku hanya bisa menghela nafas panjang. Apalagi setelah Ranti menghilang dari pandangan, sebaris kalimat muncul dari benakku-- bersama keinginan yang terkubur-- aku gagal lagi mendekati dan mengenal ulang gadis itu.
Memang, kuakui, aku begitu mengenal Ranti. Selama tiga bulan ini aku mengenalnya dalam sebuah kekaguman yang terus memaksaku untuk selalu berada di rumah makan itu setiap jam istirahat kantoran. Lima menit sebelum pukul 12:00 siang, aku telah menunggu di rumah makan itu. Di kursi paling sudut. Di tempat yang menurutku bisa leluasa menyelami gadis itu dari jarak dekat.
Tapi, Ranti sendiri tidak mengenalku. Ia juga tak pernah tahu, kalau aku berada di rumah makan itu hanya untuk melihat wajah ovalnya. Dan, sesungguhnya, aku berharap kelak Ranti mengenalku. Entah bagaimana caranya.
Suatu malam di Lagota Plaza. Kusandarkan pantatku yang penat di kursi plastik di salah satu tenda langgananku. Lagota masih sepi. Belasan tenda masih kosong pengunjung, kecuali aku yang telah menikmati secangkir juice alpokat kesukaanku.
Sambil menikmati alunan lagu "Surgamu" dari Ungu, aku menekan huruf demi huruf kecil di ponselku. Sebaris kalimat kutulis dalam sebuah SMS singkat: Malam Ranti, apa sudah mandi ya?
SMS itu langsung kukirim ke nomor ponsel Ranti. Tadi siang, aku berhasil mendapatkan nomor ponsel gadis itu. Ada dua nomor ponsel Ranti yang dikuterima dari seseorang yang mengaku teman baiknya. Satu nomor masih aktif, satu lagi telah diblokir.
Nada penerima SMS dari ponselku berdering. Sebuah SMS muncul di layar ponsel. Klik. Tanganku langsung membuka SMS itu. Sebuah SMS dari ponsel Ranti sebagai balasan SMS 'pembuka' perkenalan di antara kami. Isi SMS-nya begini: Siapa ya? Lo sok akrab banget sih.
Aku mengetik kalimat dalam ponselku untuk SMS jawaban SMS Ranti barusan: Aku telah lama mengenalmu. Aku termasuk pengagummu. Yap, sorri ya aku tak sopan kirim SMS ke ponselmu tanpa permisi.
Kamu siapa ya? Please, jangan bikin penasaran dong! Begitu SMS jawaban dari ponsel Ranti kembali masuk ke ponselku. Segera kujawab SMS Ranti: Aku Rendra. Bukan WS Rendra lho! Aku pengen jadi teman kamu. Boleh khan?
Darimana dapat nomor ponselku? Tanpa menjawab ajakan persahabatan yang kutawarkan kepadanya, isi SMS Ranti justru bernada seperti itu. Kamu ndak perlu tahu, itu pekerjaan mudah, jawabku masih via SMS.
Ya, begitulah awal mula aku bisa berkenalan dengan Ranti, meski hanya lewat SMS. Anehnya, Ranti tidak pernah mau menerima telponku, kendati aku berulangkali memencet nomor ponselnya. Jawaban yang selalu kudapat dari ponselnya hanya nada sibuk. Hanya nada dering sebuah lagu melankolis yang dilantunkan Bunga Citra Lestari yang tak kutahu apa judul lagu itu. Padahal, sesungguhnya, aku sangat berharap dapat mendengarkan langsung suara Ranti. Bukan suara Bunga Citra Lestari.
Suatu malam di Sampoddo. Rinai gerimis turun membasahi bukit kecil yang berada di tapal batas Kota Palopo ini. Barisan warung penjual jagung di sisi kiri jalan yang melingkar di bukit Sampoddo itu turut dingin merasakan cuaca malam yang berkabut.
Aku menyandarkan bahuku di tiang penyanggah salah satu warung. Kurapatkan jaketku menahan dingin yang menusuk tulang. Kuremas jemariku menghalau dingin yang menusuk sepuluh jari-jariku.
Ya, seperti biasanya, aku kembali menuliskan SMS panjang buat Ranti: Aku menawarkan sebuah persahabatan kepadamu. Sebuah pertemanan ibarat tangan dan mata. Kalau tangan terluka, mata ikut menangis. Kalau mata menangis, tangan menghapusnya.
Tak berselang beberapa lama, ponselku menerima SMS balasan: Kamu lagi..., apa tidak bosan menggangguku? Apa sih maunya kamu? Bersahabat denganmu, Ranti! Ya, balasan SMS Ranti ini langsung kukirim. Aku berharap segera dapat SMS balasannya. Namun, sampai gerimis berakhir malam itu, ponselku tak juga menerima SMS dari Ranti.
Tetapi, aku tetap mengirimkannya SMS. Aku tidak pernah bosan menulis SMS buat Ranti. Aku tidak pernah jenuh mengirimkan SMS yang isinya tetap sama: Seandainya suatu saat kita bisa makan siang bareng, aku tidak perlu lagi berburu lima menit jelang jam istirahat kantoran hanya untuk melihatmu menikmati sepiring nasi goreng.
Dua tahun yang lalu, di sebuah rumah makan di jalan Mangga, aku bertemu sahabat lama. Kami makan siang bersama, kendati kami hanya secara kebetulan bertemu di rumah makan itu. "Sudah lama ndak kelihatan," tanya Adit, sahabatku saat duduk di bangku SMP.
"Aku juga sudah lama mencarimu. Aku bersyukur, karena Tuhan mempertemukan kita secara tak sengaja di rumah makan ini," jawabku, seraya menawarkannya sebatang rokok.
"Aku dengar kamu bisnis rumput laut ya?" tanya Adit. "Usaha kecil-kecilan. Untungnya tidak seberapa," jawabku sekenanya. "Masih mendingan kamu punya pekerjaan, aku tetap pengangguran. Cari kerjaan susah kalo hanya bermodalkan ijasah SMP," katanya.
Adit memang hanya lulusan SMP. Waktu di SMP Cokroaminoto Palopo sembilan tahun lalu, Adit tidak lulus Ebtanas. Ia tidak melanjutkan sekolahnya. Kabar terakhir yang kudengar dari teman-teman di Cokro dulu, Adit ikut pamannya ke Gorontalo. Kabar lain yang kudengar Adit dipenjara karena terlibat kasus traffiking ke Kalimantan.
"Apa pekerjaanmu saat ini, Dit?" Tanpa menjawab pertanyaanku, Adit mengangkat ponselnya yang tiba-tiba berdering. "Halo bos, bagaimana kabarnya?" ujar Adit menjawab suara dari seberang yang menelponnya.
"Aku ada stok baru. Kalau cocok, bisa nego," kata Adit lagi lewat Nokia 9300 miliknya. "Stok yang satu ini dijamin asyik lo!" lanjut Adit dengan nada berpromosi. Aku bertanya dalam hati dan mencoba mengurai perkataan demi perkataan Adit. Tetapi, aku tidak bisa memaknai maksud dibalik perkataan Adit itu.
Sejurus kemudian, setelah ponselnya tidak lagi tersambung dengan seseorang di seberang sana, Adit menekan angka-angka di ponselnya. Tut-tut-tut. Adit mendengus. Wajahnya sedikit terlihat kesal. "Kenapa?" kucoba mengalihkan perhatiannya dengan bertanya. "Kalau dibutuhkan, HP-nya tidak aktif," jawab Adit, masih kesal.
"Teman bisnis," lanjut Adit, datar. "Bisnis apa?" "Bisnis yang tidak membutuhkan ijasah sarjana atau master. Bisnis ini hanya butuh kepercayaan kepada pelanggan. Modalnya cuma ponsel ini," jelas Adit.
Sama sekali aku tidak paham penjelasan Adit soal bisnisnya itu. Namun belum juga rasa penasaranku hilang, Adit menyela,"Kalau kamu mau, bisa saya kenalkan dengan teman bisnisku itu." "Aku tidak paham maksudmu?" "Aku seorang germo!" "Apa?" "Ya, bisnis yang tidak perlu sekolah tinggi-tinggi," katanya, enteng.
Tak berselang beberapa lama, ponsel Adit berdering. Cuma miskol. Namun, Adit buru-buru menghubungi nomor yang barusan miskol itu. "Kamu dimana sekarang? Ada tuh yang butuh diajak jalan-jalan," ungkap Adit. "Ah, sial..., dia haid," keluh Adit begitu kesal.
Namun, belum juga rasa kesal Adit hilang, seorang gadis tiba-tiba mendekatinya. Gadis itu berbisik di telinga Adit. Ia kemudian mengambil tempat duduk pas di depanku. Aku sempat bersitatap dengan gadis itu. Hanya sedetik, lalu tangannya kujabat setelah Adit memperkenalkan kami. "Ranti...," ujar gadis itu, tersenyum. "Rendra..." jawabku tersenyum membalas senyumnya. Ranti menolak halus ketika aku memintanya memesan minuman atau makanan buat lunch. "Terima kasih, aku masih kenyang. Aku buru-buru. Aku cuma mau bertemu Kak Adit. Aku mau mengucapkan terima kasih kepadanya," kata Ranti melirik Adit yang duduk di sampingnya.
"Berterima kasih untuk apa?" tanya Adit. "Aku lulus CPNS umum. Aku sangat berterima kasih berkat bantuan Kak Adit," katanya, girang, seraya memperlihatkan koran berisi pengumuman hasil CPNS 2005 yang diambil dari tasnya. "Sungguh? Selamat ya," kata Adit. "Selamat Ranti," ujarku kembali menyalaminya. Setelah itu, Ranti meninggalkan kami. Ia naik taksi di tengah terik matahari siang yang menyengat.
"Siapa gadis itu? Apa dia salah satu masuk dalam bisnismu?" tanyaku pada Adit setelah Ranti berlalu. Adit menggeleng, pelan. "Ia sama dengan aku. Ranti seorang germo. Ia bisa menyelesaikan kuliahnya karena bisnis itu. Kami sudah lama berteman." "Masa sih Ranti germo?" tanyaku tak percaya. "Dulu. Sekarang ini ia seorang PNS. Tadi dia membisiku sebaris kalimat itu, Kak Adit sekarang ini aku bukan lagi seorang germo," ungkap Adit.
"Nasib Ranti sangat beruntung. Dari germo jadi PNS," kataku. "Ya, ia sangat beruntung!" kata Adit, pelan.
Suatu malam, di penghujung Juni ini, aku kembali duduk sendiri di sebuah kursi plastik di Lagota. Es doger pesananku kesedot pelan mencoba mengusir kering di kerongkonganku. Sekali sedot, kerongkonganku langsung basah. Tubuhku segar.
Seperti biasanya, setiap menyepi, aku mengirimkan SMS buat Ranti. Mungkin, SMS seribu kali dari ponselku yang terkirim ke ponsel Ranti. Seribu SMS yang tak pernah terbalas.
Tapi, aku tak pernah bosan mengirimkan SMS buat Ranti. Aku rela menghabiskan pulsa untuk mengirimkan SMS yang entah dibaca atau tidak oleh Ranti, bagiku tak masalah. Kali ini, kutulis SMS yang kuharap Ranti tertarik membalasnya: Bagi dong gaji 13-nya....
SMS telah terkirim ke ponsel Ranti. Sedetik, dua detik, semenit, lima menit, belum juga ada SMS balasan kuterima. Kembali jemariku sibuk mengetik huruf demi huruf dalam layar Nokia 9500. Aku menulis SMS lagi buat Ranti. Aku berharap, SMS kali ini mendapat balasan.
Isi SMS-nya begini: Seandainya bisa aku menjadi orang paling berarti dalam hidupmu. Seandainya bisa aku menjadi sahabatmu, atau mungkin jadi kekasihmu. Ah, aku terlalu banyak berkhayal ya? Tut-tut-tut! Nada penerima SMS dari ponselku berbunyi. Jantungku berdegup kencang begitu mengetahui SMS-ku mendapat balasan dari ponsel Ranti. "Kamu sebenarnya siapa? Kamu mau apa?
Aku mau jadi sahabatmu..., jawabku lewat SMS pada ponsel Ranti. Aku sudah punya sahabat. Aku tak butuh sahabat, begitu jawaban SMS Ranti yang kuterima. Dan, Ranti mulai membalas SMS-ku. Aku mulai senang dan bahagia.
Kemudian, aku mengirimkan SMS lagi buat Ranti: Kalo begitu aku jadi kekasih kamu saja. Bgm? Maaf, aku telah lama menutup pintu hatiku buat laki-laki. Bagiku, tidak ada cinta yang abadi. Semua laki-laki itu buaya. C4P3 D3! Mengapa? Apa karena kamu pernah jadi germo? Apa karena kamu banyak mengenal laki-laki hidung belang?
Kamu tahu darimana kalau aku pernah jadi germo? Itu masa laluku. Jangan ungkit-ungkit lagi. Aku telah lama menguburnya dalam-dalam. Aku telah membuka lembaran baru dan telah melupakannya.
Aku tahu, Ranti! Setiap orang punya masa lalu yang indah, manis, pahit, ataupun mengecewakan sekalipun. Lalu, kamu mau apa dariku? Aku bukan germo lagi. Ya, aku tahu itu. Sudah dua tahun khan? Makanya, aku kirim SMS sama kamu minta ditraktir karena kamu baru terima gaji 13. Kamu seorang PNS. Germo yang jadi PNS. Aku bangga sama kamu, Ranti!
Please, jangan ganggu aku! Ok, aku tidak akan pernah kirim SMS atau menelponmu. Cuma, aku ajukan satu syarat. Apa syaratnya? Kamu harus menemani aku makan siang satu kali saja. Aku tunggu kamu saat jam istirahat kantoran. Ingat, lima menit sebelum jam istirahat kutunggu kamu di rumah makan di jalan Mangga itu. Aku tidak punya waktu. Aku sibuk. Banyak kerjaan kantor. Sekali saja. Setelah itu aku janji tidak akan kirim SMS lagi. Swear!
Kenapa kamu begitu ngotot mau makan siang denganku? Kamu khan bisa ajak pacarmu, istri, atau siapa saja. Kamu mau tahu kenapa? Aku terlalu mengagumi. Sudah dua tahun ini, aku selalu menunggu di rumah makan itu saat jam istirahat kantoran. Oke, kalau aku punya waktu saya SMS kamu. Baik. Saya tunggu SMS-nya. Trims. Itulah SMS terakhir Ranti yang masuk ke ponselku.
Aku tidak pernah lagi bisa mengirimkan SMS ke ponsel Ranti, karena sejak SMS itu nomor ponselnya telah berganti. SMS dari Ranti mengenai makan siang itu tidak pernah masuk ke ponselku.
Meski begitu, satu yang tidak pernah berubah dariku, setiap jam istirahat kantoran, lima menit sebelum pukul 12:00 siang, aku telah menunggu Ranti di rumah makan di jalan Mangga itu. Inilah saat-saat terindah dalam hidupku bisa melihat wajah Ranti yang selalu kukagumi. Aku bisa mengamati tubuh Ranti yang langsing berbalut pakaian dinas PNS. Dan, setiap kali melihat Ranti duduk sendiri menikmati nasi goreng seafood kesukaannya, setiap itu pula muncul kekagumanku kepadanya.
Aku terkadang bertanya tanpa jawaban sampai saat ini, apakah Ranti belum bisa percaya sama kaumku, karena ia pernah mengenal begitu banyak pria yang memintanya mencarikan wanita penyedia seks instan?
Ranti sahabatku dalam khayal, tidak semua laki-laki berperilaku bejat seperti laki-laki yang pernah kau kenal. Tuhan menciptakan wanita dan laki-laki untuk berpasang-pasangan dan saling mencintai, termasuk kamu, aku, termasuk seorang pelacur sekalipun. Cinta itu suci. Cinta itu milik semua insan. (*)
Teruntuk yang terkasih: Irmawati, istriku tercinta, dan dua anakku, Wisnu Ainun Prestiawan, dan Aditya Ainun Baderu.
DPRD Palopo Minta Pengelolaan Pasar Modern Harus Transparan

Maket pasar modern palopo-- ist--
- Pengamat Ekonomi STIEM Muhammadiyah Nilai Berprospek
PALOPO--Rencana Pemkot Palopo membangun pasar modern di jalan DR Ratulangi, di atas lahan seluas 1,2 hektar, adalah langkah maju yang diprogramkan untuk memajukan sektor perekonomian di kota tujuh dimensi ini. Pasar modern yang akan dibangun selama 18 bulan dengan dana pinjaman Bank Dunia, perlu didukung semua kalangan, karena pasar modern ini nantinya akan mengundang investor masuk ke daerah ini.
Pendapat ini disampaikan Yusuf Qamaruddin, pengamat ekonomi sekaligus dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Palopo, menanggapi kontroversi rencana pembangunan pasar modern di Palopo.
Menurut Yusuf, keberadaan pasar modern berlantai tiga ini, tidak perlu disikapi secara apatis ataupun pesimis, karena pada prinsipnya, pasar modern dimana-mana berprospek, apalagi di Palopo sebagai kota yang baru bertumbuh. "Pasar modern ini akan menggerakkan perekonomian Palopo dari sektor perdagangan," katanya.
Dijelaskannya, keberadaan pasar modern ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi masyarakat, tetapi pasar modern ini selain sebagai pusat perdagangan, juga akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
"Makanya, saya tidak sependapat bila ada yang berpendapat pasar modern hanya mubasir," katanya, seraya menyatakan, pendapat Muchlis Balantja, seorang pemerhati perekonomian di Palopo, sangat tepat bahwa pasar modern akan menjadi stimulator pertumbuhan perekonomian Kota Palopo ke depan.
TANTANGAN
Memang, Yusuf mengakui, ada tantangan terberat yang akan dihadapi Pemkot nantinya, bila pasar modern ini selesai dibangun. Tantangan ini, yakni bagaimana pengelola pasar modern mendatangkan pedagang yang akan berjualan di pasar modern ini. "Ini dibutuhkan satu menajemen yang benar-benar baik, yang bisa mendatangkan pengusaha dari luar untuk menempati berbagai tenant, gerai, dan los di pasar modern ini," katanya.
Bila pengelola mampu "menjual" pasar modern ini dengan baik, kekhawatiran berbagai kalangan bahwa pasar modern ini akan "menggadai" APBD Palopo, tidak akan terjadi. "Karena secara langsung dana pinjaman akan tertutupi dari penjualan dan penyewaan berbagai tempat berjualan di pasar modern," katanya.
Yusuf menyarankan kepada Pemkot agar lebih giat lagi menyosialisasikan pasar modern ini kepada masyarakat, agar memahami maksud dan tujuan di balik rencana pembangunan pasar modern. Ini juga memberikan wawasan kepada masyarakat, sehingga tidak keliru menilai rencana pembangunan pasar modern ini.
HARUS TRANSPARAN
Sementara itu, di tengah pro dan kontra rencana pembangunan pasar modern, ternyata DPRD Palopo akhirnya menyatakan persetujuannya. Bahkan, sejak 24 April 2006 silam, DPRD telah mengeluarkan persetujuannya terhadap keinginan Pemkot Palopo meminjam dana di Bank Dunia untuk pembangunan pasar modern.
Persetujuan pembangunan pasar modern yang akan dibangun paling lambat Februari 2008 itu, disepakati DPRD pada sidang paripurna 24 April 2006 silam. Dari 25 anggota dewan yang ada, sebanyak 22 di antaranya hadir sebagai peserta sidang.
Dua anggota DPRD lainnya, masing-masing Yasman Miming dan Tasik berhalangan hadir lantaran saat itu bertepatan dengan kegiatan dinas luar kota. Sementara Andi Falsafah, saat itu, tidak hadir karena sakit.
Dalam catatan Sekretariat DPRD Kota Palopo, sidang saat itu dipimpin Ketua DPRD Kota Palopo H Rahmat Masri Bandaso didampingi Wakil Ketuanya, Harla Ratda. Ada dua agenda utama yang dibahas saat itu. Salah satunya adalah persetujuan dewan atas pinjaman ke Bank Dunia.
Wakil Ketua Harla Ratda ketika dikonfirmasi soal itu membenarkan, bahwa seluruh anggota dewan sepakat untuk menerbitkan surat persetujuan atas pinjaman Pemkot ke Bank Dunia. Pinjaman itu akan digunakan untuk membangun Pasar Modern. "Sebanyak
anggota dewan hadir dalam sidang paripurna itu. Bahkan Walikota Palopo HPA Tenriadjeng, Kajari Palopo, Kapolres Palopo dan Sekot Palopo hadir dalam pertemuan itu," ujar Harla di ruang kerjanya, kemarin.
Yang jelas kata Harla, DPRD menyetujui pinjaman untuk ke Bank Dunia untuk pembangunan Pasar Modern. Hanya saja, sampai sekarang ini, mekanisme pengelolaannya masih harus dibicarakan. "Masalah pengelolaannyalah yang harus dibicarakan secara transparan," ujar Harla.
Sampai sekarang lanjut Harla, pihaknya belum mengeluarkan surat pernyataan ataupun persetujuan terhadap mekanisme pengelolaan pasar modern itu. "Untuk menghindari persepsi yang keliru, Pemkot harus mentransparankan mekanisme pengelolaan pasar modern tersebut. Sebab kalau tidak, justru berpotensi memunculkan pemikiran yang kontra produktif," katanya. tegasnya. (chairul baderu)
Rabu, 28 November 2007
Pemkot Palopo Tetap Bangun Pasar Modern
* H Faisal: 90 Persen Pedagang PNP Menolak
PALOPO--Pedagang Pusat Niaga Palopo (PNP), menolak rencana pembangunan pasar modern di Jl DR Ratulangi, Kota Palopo. Mereka khawatir, pasar modern itu akan mematikan usaha pedagang tradisional di daerah ini. Meski sarat penolakan dari masyarakat, termasuk pedagang tradisional, Pemkot Palopo tetap akan membangun pasar modern ini dari pinjaman dana Bank Dunia senilai Rp44 miliar.
Sebab, pembangunan pasar modern ini telah lama direncanakan dan matang. "Kita tetap akan menjalankan program itu (maksudnya, pasar modern, Red), karena Pemkot telah merencanakannya secara matang selama tiga tahun," kata Walikota Palopo, HPA Tenriadjeng, saat mengikuti reboisasi Bukit Sampoddo, Rabu 28 November, kemarin.
Pasar modern sebagai salah satu program pemerintah, tegas Tenriadjeng, adalah upaya mensejahterakan masyarakat Palopo, bukan untuk mencari keuntungan kelompok, atau personal di daerah ini.
Ia mengharapkan agar masyarakat tidak bersikap apatis dan pesimis menanggapi berbagai rencana pembangunan di Kota Palopo, tetapi meski mendukung program Pemkot yang bermuara mensejahterakan masyarakat itu.
TETAP DITOLAK
Sementara itu, sejumlah pedagang di PNP, menyatakan penolakannya terhadap rencana pembangunan pasar modern. Supriadi misalnya, pemilik los FF-6/No.7 PNP, secara tegas menyatakan, pembangunan pasar modern ini, akan mematikan usaha pedagang PNP, yang sebagian besar masih dililit kredit di bank.
"Seharusnya, Pemkot mengoptimalkan keberadaan PNP dan Pasar Andi Tadda, sebelum berencana membangunan pasar modern," katanya.
Supriadi menyatakan, PNP saja belum optimal, karena masih sekitar 200-an los yang kosong. "Pasar modern memang mendukung Palopo, tetapi sekarang ini belum tepat, karena perekonomian Palopo belum membaik. Daya beli masyarakat Palopo masih rendah," katanya, seraya menyatakan, omset pedagang PNP sekarang ini menurun drastis hanya berkisar Rp100 ribu per pedagang akibat daya beli yang rendah.
Senada itu, Kaharuddin, pedagang PNP di los Blok C/No.7, menyatakan, rencana pembangunan pasar modern tidak tepat sasaran. "Pasar modern itu akan mematikan usaha pedagang di PNP, karena sebenarnya kalau mau jujur, PNP ini sudah semi pasar modern," katanya.
Yang harus dilakukan Pemkot saat ini, ungkap Kaharuddin, adalah membenahi PNP. "Sebab, PNP sebagai pasar semi modern, kondisinya sekarang ini memprihatikan karena omset pedagang kian hari kian menurun akibat rendahnya daya beli masyarakat," katanya, seraya menyatakan, bila Pemkot tetap memaksakan membangun pasar modern, sama saja mematikan usaha pedagang kecil, termasuk pedagang di PNP.
H Faisal, pedagang PNP lainnya, juga menolak rencana pembangunan pasar modern. Bahkan, ia menegaskan, sekitar 90 persen pedagang PNP, termasuk pedagang di Pasar Andi Tadda, menolak rencana pembangunan pasar modern. "Sebab, kami sadar, pasar modern ini akan membunuh usaha kami," katanya.
Masih menurutnya, seharusnya Pemkot Palopo bila ingin membangun pasar modern, tidak menggunakan dana pinjaman Bank Dunia. Tetapi katanya, pembangunan pasar modern mesti didanai investor. "Dan, terus terang, bila pasar modern berprospek di Palopo, sejak lama investor masuk ke Palopo. Kenyataannya tidak, karena daya beli masyarakat Palopo yang rendah," katanya. (chairul baderu)
PALOPO--Pedagang Pusat Niaga Palopo (PNP), menolak rencana pembangunan pasar modern di Jl DR Ratulangi, Kota Palopo. Mereka khawatir, pasar modern itu akan mematikan usaha pedagang tradisional di daerah ini. Meski sarat penolakan dari masyarakat, termasuk pedagang tradisional, Pemkot Palopo tetap akan membangun pasar modern ini dari pinjaman dana Bank Dunia senilai Rp44 miliar.
Sebab, pembangunan pasar modern ini telah lama direncanakan dan matang. "Kita tetap akan menjalankan program itu (maksudnya, pasar modern, Red), karena Pemkot telah merencanakannya secara matang selama tiga tahun," kata Walikota Palopo, HPA Tenriadjeng, saat mengikuti reboisasi Bukit Sampoddo, Rabu 28 November, kemarin.
Pasar modern sebagai salah satu program pemerintah, tegas Tenriadjeng, adalah upaya mensejahterakan masyarakat Palopo, bukan untuk mencari keuntungan kelompok, atau personal di daerah ini.
Ia mengharapkan agar masyarakat tidak bersikap apatis dan pesimis menanggapi berbagai rencana pembangunan di Kota Palopo, tetapi meski mendukung program Pemkot yang bermuara mensejahterakan masyarakat itu.
TETAP DITOLAK
Sementara itu, sejumlah pedagang di PNP, menyatakan penolakannya terhadap rencana pembangunan pasar modern. Supriadi misalnya, pemilik los FF-6/No.7 PNP, secara tegas menyatakan, pembangunan pasar modern ini, akan mematikan usaha pedagang PNP, yang sebagian besar masih dililit kredit di bank.
"Seharusnya, Pemkot mengoptimalkan keberadaan PNP dan Pasar Andi Tadda, sebelum berencana membangunan pasar modern," katanya.
Supriadi menyatakan, PNP saja belum optimal, karena masih sekitar 200-an los yang kosong. "Pasar modern memang mendukung Palopo, tetapi sekarang ini belum tepat, karena perekonomian Palopo belum membaik. Daya beli masyarakat Palopo masih rendah," katanya, seraya menyatakan, omset pedagang PNP sekarang ini menurun drastis hanya berkisar Rp100 ribu per pedagang akibat daya beli yang rendah.
Senada itu, Kaharuddin, pedagang PNP di los Blok C/No.7, menyatakan, rencana pembangunan pasar modern tidak tepat sasaran. "Pasar modern itu akan mematikan usaha pedagang di PNP, karena sebenarnya kalau mau jujur, PNP ini sudah semi pasar modern," katanya.
Yang harus dilakukan Pemkot saat ini, ungkap Kaharuddin, adalah membenahi PNP. "Sebab, PNP sebagai pasar semi modern, kondisinya sekarang ini memprihatikan karena omset pedagang kian hari kian menurun akibat rendahnya daya beli masyarakat," katanya, seraya menyatakan, bila Pemkot tetap memaksakan membangun pasar modern, sama saja mematikan usaha pedagang kecil, termasuk pedagang di PNP.
H Faisal, pedagang PNP lainnya, juga menolak rencana pembangunan pasar modern. Bahkan, ia menegaskan, sekitar 90 persen pedagang PNP, termasuk pedagang di Pasar Andi Tadda, menolak rencana pembangunan pasar modern. "Sebab, kami sadar, pasar modern ini akan membunuh usaha kami," katanya.
Masih menurutnya, seharusnya Pemkot Palopo bila ingin membangun pasar modern, tidak menggunakan dana pinjaman Bank Dunia. Tetapi katanya, pembangunan pasar modern mesti didanai investor. "Dan, terus terang, bila pasar modern berprospek di Palopo, sejak lama investor masuk ke Palopo. Kenyataannya tidak, karena daya beli masyarakat Palopo yang rendah," katanya. (chairul baderu)
Pelacuran di Palopo, Kota Religi
Oleh: Chairul Baderu
PELACUR diperlakukan tak ubahnya seperti mobil sewaan (rental car). Pagi dipinjam, sore dikembalikan. Soal bahan bakar, terserah penyewa, mau diisi sedikit atau banyak. Premium, pertamax atau solar, tergantung dari keadaan mobil tersebut. Apakah mobil dikendarai dengan lembut atau kasar, tergantung pula pada sifat si penyewa.
Begitu pun pekerja seks komersial (PSK), mereka disewa seperti barang berdasarkan lamanya penyewaan. Bedanya, kalau mobil rental disewa sepanjang 24 jam, sementara PSK bisa disewa hanya hitungan jam.
Di Kota Palopo ini, pelacuran juga telah tumbuh di tengah masyarakat yang berdimensi religi ini. Masih banyak dijumpai "penyewaan" PSK dengan sistem short time. Lelaki hidung belang datang ke tempat di mana para PSK biasanya mangkal, seperti di SempowaE dan Pajalesang, dua lingkungan di Kecamatan Wara yang terkenal "esek-eseknya" itu. Si pria kemudian membayar dengan jumlah uang tertentu, sesaat setelah melakukan persenggamaan singkat. Dan, si mucikari menerima sewa kamar senilai Rp10.000 atau Rp20.000.
Seperti halnya mobil rental, PSK terus berpindah dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Adakalanya, konsumen tersebut memperlakukannya secara lembut, romantis, dan memanjakannya. Namun tak jarang, mereka memperlakukannya secara kasar, dengan meminta melakukan berbagai macam hubungan seks yang tidak lazim.
Sebagian PSK tidak dapat menolak, karena posisi tawar mereka memang sangat rendah. Jika ada complain dari pelanggan yang sampai ke "papi" atau "mami"-- nama lain dari mucikari-- PSK tersebut bisa-bisa dimarahi, bahkan "honornya" dikurangi.
Ya, nasib PSK memang sangat memiriskan. Mereka diperlakukan seperti mobil rental, semaunya si penyewa. Tidak manusiawi. Pahit bin memilukan. Namun, perlu disadari, PSK ini adalah penyakit sosial yang harus diretas dari kota ini, bila pemerintah yang ada tidak mau dikatakan "gatot" alias gagal total.
Dalam sepekan ini, Pemkot melalui pemerintah kecamatan Wara, jajaran Satpol-PP, termasuk diback-up Polsek Wara, intens mengadakan penertiban prostitusi terselubung. Dikatakan terselubung-- bukan lokalisasi-- karena praktek pelacuran ini berada di rumah-rumah penduduk di tengah permukiman padat penduduk.
Pemkot Palopo, secara sepintas, tampak serius memerangi pelacuran. Tapi, sejujurnya, banyak persoalan yang dihadapi Pemkot memberantas praktek "esek-esek" ini. Salah satunya, Pemkot belum memiliki perangkat hukum berupa Peraturan Daerah (Perda) yang menjadi payung hukum dalam meretas bisnis "rental mobil" ini.
Beberapa daerah di Indonesia, yang serius memerangi prostitusi, telah menerapkan Perda. Misalnya,
Indramayu-- kabupaten yang merupakan sentra "pengiriman" PSK terbesar ini-- telah menerapkan Perda No.14 Tahun 2005 tentang Pencegahan dan Pelarangan Trafficking untuk Eksploitasi Seksual Komersial.
Kota Bandung yang menjadi salah satu daerah tujuan PSK, juga mempersempit gerak prostitusi dengan memberlakukan Perda No.3 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3), dengan memberikan hukuman yang tinggi bagi berbagai pihak yang melakukan pelanggaran asusila ini. Demikian pula Kabupaten Tanjungbalai Karimun, yang juga menjadi salah satu daerah tujuan PSK, telah lama menerapkan Perda No.6 Tahun 2002 tentang Pelanggaran Kesusilaan.
Persoalan serius lainnya yang menghadang Pemkot, unit kerja lainnya belum padu. Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos) misalnya, tak memiliki program nyata dalam menangani PSK yang terjaring razia.
Pengalaman di lapangan, PSK yang terjaring berbagai razia, setelah didata dilepas lagi. PSK ini kemudian kembali ke "habitatnya". Razia lagi, eh PSK terjaring lagi. Bahkan, di antara para PSK ini, ada yang telah berulangkali terjaring, toh tetap dibiarkan lepas tanpa ada pembinaan yang serius.
Persoalannya, Kota Palopo belum memiliki
panti rehabilitasi bagi PSK. Mereka belum pernah mendapat pembinaan. Aparat Satpol-PP sangat solid mengadakan razia, tetapi Satpol-PP juga tidak bisa hanya mengamankan dan mengamankan selalu tanpa pembinaan dari dinas terkait.
Bisnis prostitusi di Kota Palopo, dari hari ke hari, semakin ramai dan meriah. Meningkatnya transaksi seks di kota "Idaman" ini, ya itu tadi, keseriusan jajaran Pemkot memerangi pelacuran, sifatnya sebatas "pemadam kebakaran". Razia gencar dilaksanakan ketika ada sorotan dari publik.
Belum ada upaya nyata dan serius dari Pemkot Palopo, mempersempit ruang gerak para PSK, termasuk mucikarinya. Di SempowaE dan Pajalesang misalnya-- dua sentra prostitusi terbesar di Palopo-- penggerebekan telah berulangkali, tetapi semakin prostitusi
tumbuh subur di wilayah itu. Malahan, para PSK masih nyaman berlabuh dan leluasa bertransaksi di dua lingkungan itu.
Belum lagi, PSK "berkelas" -- tarif di atas Rp200 ribu sekali berlabuh-- juga telah merambah hotel dan wisma murah di daerah yang telah terkenal dengan dimensi religinya di Sulsel ini. Bahkan, sebagian besar pelaku "bisnis lendir" dibawa umur, anak sekolahan.
Nah, kita khawatir, jangan sampai upaya pemberantasan prostitusi, termasuk Miras di Palopo ini hanya garang di atas kertas. Ataupun, pemberantasan prostitusi yang mayoritas masyarakat menolaknya itu, sebatas semarak di atas koran. Masyarakat tidak menginginkan itu. Duh! (*)
PELACUR diperlakukan tak ubahnya seperti mobil sewaan (rental car). Pagi dipinjam, sore dikembalikan. Soal bahan bakar, terserah penyewa, mau diisi sedikit atau banyak. Premium, pertamax atau solar, tergantung dari keadaan mobil tersebut. Apakah mobil dikendarai dengan lembut atau kasar, tergantung pula pada sifat si penyewa.
Begitu pun pekerja seks komersial (PSK), mereka disewa seperti barang berdasarkan lamanya penyewaan. Bedanya, kalau mobil rental disewa sepanjang 24 jam, sementara PSK bisa disewa hanya hitungan jam.
Di Kota Palopo ini, pelacuran juga telah tumbuh di tengah masyarakat yang berdimensi religi ini. Masih banyak dijumpai "penyewaan" PSK dengan sistem short time. Lelaki hidung belang datang ke tempat di mana para PSK biasanya mangkal, seperti di SempowaE dan Pajalesang, dua lingkungan di Kecamatan Wara yang terkenal "esek-eseknya" itu. Si pria kemudian membayar dengan jumlah uang tertentu, sesaat setelah melakukan persenggamaan singkat. Dan, si mucikari menerima sewa kamar senilai Rp10.000 atau Rp20.000.
Seperti halnya mobil rental, PSK terus berpindah dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Adakalanya, konsumen tersebut memperlakukannya secara lembut, romantis, dan memanjakannya. Namun tak jarang, mereka memperlakukannya secara kasar, dengan meminta melakukan berbagai macam hubungan seks yang tidak lazim.
Sebagian PSK tidak dapat menolak, karena posisi tawar mereka memang sangat rendah. Jika ada complain dari pelanggan yang sampai ke "papi" atau "mami"-- nama lain dari mucikari-- PSK tersebut bisa-bisa dimarahi, bahkan "honornya" dikurangi.
Ya, nasib PSK memang sangat memiriskan. Mereka diperlakukan seperti mobil rental, semaunya si penyewa. Tidak manusiawi. Pahit bin memilukan. Namun, perlu disadari, PSK ini adalah penyakit sosial yang harus diretas dari kota ini, bila pemerintah yang ada tidak mau dikatakan "gatot" alias gagal total.
Dalam sepekan ini, Pemkot melalui pemerintah kecamatan Wara, jajaran Satpol-PP, termasuk diback-up Polsek Wara, intens mengadakan penertiban prostitusi terselubung. Dikatakan terselubung-- bukan lokalisasi-- karena praktek pelacuran ini berada di rumah-rumah penduduk di tengah permukiman padat penduduk.
Pemkot Palopo, secara sepintas, tampak serius memerangi pelacuran. Tapi, sejujurnya, banyak persoalan yang dihadapi Pemkot memberantas praktek "esek-esek" ini. Salah satunya, Pemkot belum memiliki perangkat hukum berupa Peraturan Daerah (Perda) yang menjadi payung hukum dalam meretas bisnis "rental mobil" ini.
Beberapa daerah di Indonesia, yang serius memerangi prostitusi, telah menerapkan Perda. Misalnya,
Indramayu-- kabupaten yang merupakan sentra "pengiriman" PSK terbesar ini-- telah menerapkan Perda No.14 Tahun 2005 tentang Pencegahan dan Pelarangan Trafficking untuk Eksploitasi Seksual Komersial.
Kota Bandung yang menjadi salah satu daerah tujuan PSK, juga mempersempit gerak prostitusi dengan memberlakukan Perda No.3 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3), dengan memberikan hukuman yang tinggi bagi berbagai pihak yang melakukan pelanggaran asusila ini. Demikian pula Kabupaten Tanjungbalai Karimun, yang juga menjadi salah satu daerah tujuan PSK, telah lama menerapkan Perda No.6 Tahun 2002 tentang Pelanggaran Kesusilaan.
Persoalan serius lainnya yang menghadang Pemkot, unit kerja lainnya belum padu. Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos) misalnya, tak memiliki program nyata dalam menangani PSK yang terjaring razia.
Pengalaman di lapangan, PSK yang terjaring berbagai razia, setelah didata dilepas lagi. PSK ini kemudian kembali ke "habitatnya". Razia lagi, eh PSK terjaring lagi. Bahkan, di antara para PSK ini, ada yang telah berulangkali terjaring, toh tetap dibiarkan lepas tanpa ada pembinaan yang serius.
Persoalannya, Kota Palopo belum memiliki
panti rehabilitasi bagi PSK. Mereka belum pernah mendapat pembinaan. Aparat Satpol-PP sangat solid mengadakan razia, tetapi Satpol-PP juga tidak bisa hanya mengamankan dan mengamankan selalu tanpa pembinaan dari dinas terkait.
Bisnis prostitusi di Kota Palopo, dari hari ke hari, semakin ramai dan meriah. Meningkatnya transaksi seks di kota "Idaman" ini, ya itu tadi, keseriusan jajaran Pemkot memerangi pelacuran, sifatnya sebatas "pemadam kebakaran". Razia gencar dilaksanakan ketika ada sorotan dari publik.
Belum ada upaya nyata dan serius dari Pemkot Palopo, mempersempit ruang gerak para PSK, termasuk mucikarinya. Di SempowaE dan Pajalesang misalnya-- dua sentra prostitusi terbesar di Palopo-- penggerebekan telah berulangkali, tetapi semakin prostitusi
tumbuh subur di wilayah itu. Malahan, para PSK masih nyaman berlabuh dan leluasa bertransaksi di dua lingkungan itu.
Belum lagi, PSK "berkelas" -- tarif di atas Rp200 ribu sekali berlabuh-- juga telah merambah hotel dan wisma murah di daerah yang telah terkenal dengan dimensi religinya di Sulsel ini. Bahkan, sebagian besar pelaku "bisnis lendir" dibawa umur, anak sekolahan.
Nah, kita khawatir, jangan sampai upaya pemberantasan prostitusi, termasuk Miras di Palopo ini hanya garang di atas kertas. Ataupun, pemberantasan prostitusi yang mayoritas masyarakat menolaknya itu, sebatas semarak di atas koran. Masyarakat tidak menginginkan itu. Duh! (*)